Beri Dukungan
first published at:
updated at:
    Flora
    Setu Patok
    Jawa Barat

Identitas Penamaan

Kapuk randu secara ilmiah dalam bahasa Latin dikenal dengan nama Ceiba pentandra. Secara internasional dalam bahasa Inggris tanaman ini dikenal sebagai kapok atau silk cotton tree

Kapok sendiri merupakan sebuah kata dari bahasa Melayu yang pada mulanya digunakan untuk menyebut tanaman asli Bombax ceiba di daerah tropis Asia. Di negara-negara berbahasa Spanyol, pohon ini umumnya dikenal sebagai "ceiba" dan di negara-negara berbahasa Perancis sebagai fromager.

Di Indonesia tanaman ini memiliki nama lain yaitu kapas Jawa, kapuk Jawa, kapas-sutra, kapuk hutan atau kapok kalingi. Secara lokal, kapuk dapat juga digunakan sebagai sebutan yang merujuk pada serat dari tanaman ini.

Nama genusnya, Ceiba, berasal dari versi Latin nama Amerika Selatan untuk pohon kapas sutra. Sedangkan nama spesiesnya, pentandra, berasal dari kata Yunani pente yang berarti lima dan andro yang berarti benang sari mengacu pada bunga tanaman yang mempunyai lima benang sari (Ecosostenibile, 2023).

Taksonomi

Kingdom

Plantae

Phylum

Tracheophyta

Class

Magnoliopsida

Order

Malvales

Family

Malvaceae

Genus

Ceiba

Species

Ceiba pentandra

Asal dan Sejarah Penyebaran Kapuk Randu

Tanaman kapuk randu berasal dari wilayah Meksiko, Amerika Tengah dan Karibia, bagian selatan Amerika Selatan. Kapuk randu telah menjadi simbol suci dalam mitologi Maya serta merupakan pohon suci di Palo, Arará dan Santería.

Kapuk randu mungkin diperkenalkan ke Afrika beberapa tahun yang lalu, salah satu teorinya adalah bahwa biji polongnya yang belum dibuka, yang tidak tenggelam dalam air, mengambang dari Amerika Latin bagian timur ke Afrika (Ceiba Pentandra  - Plant Finder).

Varietas yang lebih kecil telah diperkenalkan ke Asia Selatan dan Tenggara, tempat di mana tumbuhan ini dibudidayakan. Di wilayah Asia Tenggara tumbuhan ini telah dibudidayakan di negara Indonesia, Filipina dan Malaysia. Di Indonesia kapuk randu dapat dengan mudah ditemukan di daerah provinsi Jawa Barat seperti Cirebon dan Bogor.

kapuk randu - silk cotton - 2.jpg

Deskripsi Bentuk dan Pertumbuhan

Kapuk randu merupakan pohon berukuran besar dengan ketinggian yang dapat mencapai hingga 60 sampai 70 meter. Pohon ini diyakini sebagai pohon tertinggi di benua Afrika. Tumbuhan ini juga diketahui adalah tumbuhan tropis yang dapat tumbuh dengan cepat dan menyukai lokasi yang terkena sinar matahari, di tanah yang subur dan dalam yang mempertahankan kelembapan namun memiliki drainase yang baik.

Batangnya serta banyak cabangnya yang lebih lebar ditumbuhi duri-duri yang besar dan kokoh. Ukuran diameter batangnya rata - rata akan mencapai 15 cm pada saat dewasa, tetapi dapat mencapai hingga 22 cm atau lebih pada saat pohon menjadi lebih besar. Daunnya terdiri dari 5 sampai 9 helai daun kecil, masing-masing panjangnya dapat mencapai hingga 20 cm.

Bunganya terbuka pada malam hari dan menjadi tua pada siang hari. Biasanya mengeluarkan bau yang menyengat dan nektar di dasar bunga biseksualnya yang besar.

Pohon dewasanya dapat menghasilkan beberapa ratus buah yang mengandung banyak biji yang dikelilingi oleh serat berbulu dan kekuningan yang terdiri dari lignin dan selulosa.

Dipercaya juga bahwa kapuk yang dibudidayakan merupakan hasil persilangan alami antara dua varietas yang masing-masing berasal dari Amerika tropis dan Afrika Barat (Ecosostenibile, 2023).

Kegunaan Kapuk Randu

Sejak zaman dahulu kapuk banyak digunakan sebagai bahan untuk kasur hingga terjadinya peralihan perilaku masyarakat yang lebih menyukai kasur bahan pegas dan busa. Kapuk sebenarnya dapat dikatakan sebagai salah satu alternatif ramah lingkungan berbiaya rendah dibandingkan bahan umum lain seperti poliester atau katun.

Kapuk juga dapat dijadikan sebagai bahan kedap suara dan penahan cuaca terutama karena seratnya lebih kuat dibandingkan kapas. Sedangkan biji dan bungkilnya dapat menghasilkan minyak pelumas. 

Kandungan dan Manfaat Lain Kapuk Randu bagi Kesehatan

Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Baraniak dan Kania-Dobrowolska diketahui bahwa biji kapuk randu mengandung sekitar 89% bahan kering termasuk 20–35% protein, 30% minyak, dan 20–26% serat kasar. Selain itu bijinya juga mengandung alkaloid, senyawa fenolik, flavonoid, tanin, saponin, trypsin dan inhibitor fitat. Kandungan yang terdapat pada bijinya menjadikannya baik untuk digunakan sebagai pakan ternak. 

Kapuk randu disebutkan dalam Ayurveda menunjukkan sifat astringen dan diuretik, dapat membantu menurunkan demam, meredakan kejang dan menghambat pendarahan. Secara eksternal, daunnya yang dihaluskan digunakan sebagai obat bisul, keseleo, tumor, abses, vitiligo. Sedangkan perasan daunnya digunakan untuk infeksi kulit.

Sejarah Komersialisasi Kapuk dari Indonesia

Menurut data yang disebutkan pada laman Portal Informasi Indonesia, disebutkan bahwa kapuk Jawa mulai ditanam pada masa kolonial Belanda yaitu pada sekitar tahun 1900-an dan pada tahun 1928 mulai dikirim ke beberapa negara. Era tahun 1936 hingga 1937 merupakan puncak kejayaan dari industri kapuk Jawa atau Java Kapok hingga menandakan Indonesia salah satu pemasok kapuk penting karena berhasil memenuhi hingga 85% kebutuh kapuk di pasar dunia. Pada masa tersebut saingan utama kapuk Jawa adalah kapuk dari Thailand. 

Kemudian sampai era tahun 1990-an kapuk Jawa masih berproduksi dengan baik untuk pasar lokal dengan penggunaan utama sebagai kasur tidur. Namun keadaan berangsur berubah setelah terjadinya puncak industrialisasi pada era tahun 2000-an. Perubahan perilaku konsumen yang lebih menyukai kasur berbahan dasar busa dan pegas menjadikan kebutuhan akan kapuk semakin berkurang.  

Sepinya peminat dan permintaan akan kapuk Jawa sementara tanaman kapuk hanya dapat dipanen sekali dalam setahun menjadikan banyak petani kapuk yang beralih ke tanaman pertanian lainnya dan industri banyak yang mulai tidak beroperasi. Namun begitu sebenarnya industri kapuk belum dapat dikatakan mati seutuhnya karena kapuk masih banyak digunakan sebagai bahan kedap suara dan sebagai penahan cuaca. 


Bagikan catatan ini

Ikuti Studiofru | Green Project melalui media sosial untuk mendapatkan informasi singkat mengenai flora dan fauna

Catatan Terbaru