Beri Dukungan
first published at:
updated at:
    Flora
    Setu Patok

Identitas Penamaan

Pare secara ilmiah dalam bahasa Latin dinamakan sebagai Momordica charantia. Secara internasional tumbuhan ini dikenal dengan nama bitter melon atau bitter gourd. Nama lain dari tumbuhan ini yaitu balsam apple atau balsam pear. Di Cina tumbuhan ini dikenal dengan nama ku gua, goya di Jepang, balsambirne di Jerman, achochina atau balsamina di daerah - daerah negara berbahasa Spanyol, ampalaya dalam bahasa Tagalog di Filipina dan kakara atau karela dalam bahasa Hindi di India (Julissa Rojas-Sandoval and Acevedo-Rodríguez, 2022).

Di Indonesia tumbuhan ini memiliki banyak nama sebutan sesuai dengan bahasa daerah setempat. Di daerah Jawa tumbuhan ini dikenal dengan nama pare, paria atau pepareh. Prieu, peria, foria, pepare atau kambeh di daerah Sumatera, paya, truwuk, paita, paliak, pariak atau pania di daerah Nusa Tenggara dan poya, pudu, pentu, paria belenggede atau palia di daerah Sulawesi (Dhau et al., 2018).

Nama generiknya berasal dari bahasa Latin mordeo yang berarti menggigit, yang kemungkinan merujuk pada tepi biji yang bergerigi. Sedangkan charantia berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti bunga yang indah. Menurut Schaefer dan Renner (2010) genus Momordica terdiri atas 59 spesies yang tersebar di daerah tropis hangat, terutama di Afrika dan sekitar 12 spesies di Asia Tenggara (Julissa Rojas-Sandoval and Acevedo-Rodríguez, 2022).

Taksonomi

Kingdom

Plantae

Phylum

Tracheophyta

Class

Magnoliopsida

Order

Cucurbitales

Family

Cucurbitaceae

Genus

Momordica

Species

Momordica charantia

Asal

Asal dan awal mula domestikasi tanaman ini belum dapat dipastikan hingga saat ini dikarenakan kurangnya bukti - bukti arkeologis. Walaupun begitu pada masa kini penyebaran pembudidayannya terlihat di beberapa wilayah dengan iklim tropis dan subtropis di seluruh benua terutama sebagai tanaman pangan di wilayah Asia termasuk Indonesia (pulau Jawa, Kalimantan dan Sumatera), Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, India, Pakistan, Sri Lanka, Nepal dan Cina (daerah bagian Yunan), Australia dan Afrika. 

Pare juga telah dinaturalisasikan di wilayah Amerika Utara, Selatan dan Tengah serta di beberapa pulau di Laut Pasifik. Ada juga kemungkinan bahwa pare sebagai tanaman sebenarnya berasal atau merupakan tanaman asli dari benua Afrika dan Australia (Julissa Rojas-Sandoval and Acevedo-Rodríguez, 2022).

Namun, sebuah laporan yang ditulis oleh Susanne S. Renner pada tahun 2020 menyebutkan bahwa domestikasi awal pare dilakukan pada 6.000 tahun yang lalu yang diikuti dengan pemisahan kultivar selanjutnya pada 800 tahun yang lalu. Melalui sebuah penelitian yang dilakukannya dengan metode perbandingan unsur - unsur taksonomi, genetika dengan kesimpulan divergensi melalui waktu mutasi antara pare yang secara geografis berasal dari Afrika dan dari Asia, ditemukan bahwa domestikasi pare pertama kali terjadi di Asia.

Deskripsi Bentuk dan Pertumbuhan

Pare sendiri merupakan tanaman tahunan dengan pertumbuhan yang melilit dan merambat atau memanjang pada posisi tegak melalui bantuan sulur dengan ketinggian yang dapat mencapai hingga 2 sampai 3 meter. Daunnya memiliki bentuk yang sederhana dan tersusun bergantian secara tunggal di sepanjang batangnya dengan panjang 3 sampai 5 cm. Sedangkan panjang daunnya dapat mencapai hingga 4 sampai 10 cm dengan bentuk yang membulat dan memiliki bau yang tidak sedap ketika diremas.

Meskipun pare adalah kerabat dekat sayuran seperti mentimun dan banyak dikonsumsi seperti sayur, pare diklasifikasikan sebagai buah. Umumnya ada dua tipe utama dari pare. Yaitu, pare Cina yang terlihat seperti mentimun yang layu dengan bentuk yang tertutup rapat oleh benjolan berkutil, dan pare India yang berwarna hijau tua dan kekar, dengan ujung runcing dan kulit berduri. 

Sedangkan di Indonesia sebagaimana yang dilaporkan oleh Jenriani Cornesa Dhau dan rekan - rekan dalam sebuah laporan ilmiah pada tahun 2018, tanaman pare diketahui memiliki tiga jenis. Yaitu: 

1. Pare Taiwan atau chu mi. Pare jenis ini berasal dari Taiwan dengan ciri utama bentuknya yang lonjong, agak bulat dan besar. Terdapat dua jenis warna dari pare Taiwan yaitu putih dan hijau. Sehingga untuk menyebutnya dibedakan menjadi chu mi putih dan chu mi hijau. Rasanya juga dapat dikatakan tidak terlalu pahit.

2. Pare gajih atau pare mentega. Warnanya putih kekuningan dengan permukaan buah berbintil - bintil besar. Panjang buahnya dapat mencapai hingga 30 sampai 50 cm dengan bentuk yang agak lansing. Daging buahnya agak tebal hingga buahnya dapat tumbuh hingga seberat 250 sampai 500 gram.

3. Pare ayam atau pare hijau. Warnanya hijau dengan ukuran bentuk buah yang lebih kecil dan pendek. Pada bagian yang banyak mengandung biji membulat, sehingga sering pangkalnya langsing akan tetapi bagian bawahnya bulat.

Buahnya yang belum matang berwarna hijau dengan biji berwarna putih. Akan berubah warna menjadi oranye saat matang dan terbelah dari atas ke bawah hingga menghasilkan biji berwarna merah cerah.

Buah pare dikenal karena rasanya yang pahit. Walaupun dapat dikonsumsi dalam bentuk segar atau dengan cara dikukus, umumnya masyarakat memasak buahnya bersama dengan bumbu lain untuk mengatasi rasanya yang pahit. 

Sebagai tanaman pare tidak membutuhkan sinar matahari yang penuh sehingga dapat tumbuh di tempat - tempat yang teduh. Benihnya akan memerlukan waktu 5 hingga 7 hari untuk berkecambah. Tergantung pada varietasnya, tanaman ini mungkin memerlukan waktu 50 hingga 60 hari untuk matang (Coolick, “The Health Benefits of Bitter Melon”, 2023). 

Tanaman pare dapat diairi setiap 10 hari pada musim kemarau yang sejuk dan setiap minggu pada musim kemarau yang panas. Irigasi tetes adalah metode yang efisien untuk memasok air dan nutrisi melalui pembuahan (Julissa Rojas-Sandoval and Acevedo-Rodríguez, 2022).

Kandungan dan Manfaat Lain dari Pare bagi Kesehatan

Pare dikatakan kaya akan vitamin A dan C serta nutrisi lainnya seperti kalsium, magnesium, potassium, dan zat besi. Berdasarkan penelitian - penelitian yang pernah dilakukan diketahui pula bahwa pare melalui ekstrasi buahnya mengandung beberapa kandungan kimia yang memiliki manfaat bagi kesehatan yaitu saponin, flavonoid, polifenol, alkaloid, triterpenoid, momordisin, glikosida cucurbitacin, charantin, asam 13 butirat, asam palmitat, asam linoleat dan asam stearat (Dhau et al., 2018).

Secara tradisional pare dikonsumsi untuk membantu mengatasi penyakit diabetes. Jusnya dioleskan secara eksternal untuk mengobati kelainan kulit dan sarinya diminum sebagai obat radang sendi, rematik, dan asma. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa memakan buahnya dapat membantu menurunkan tingkat glukosa darah (“NParks | Momordica Charantia”, 2023). Kandungan beta karotin yang terdapat pada buah pare dikatakan dapat membantu mencegah kanker. 

Namun menurut ahli diet terdaftar Beth Czerwony, RD, LD pare sebaiknya tidak konsumi untuk ibu hamil karena memiliki kaitan dengan kelainan pada embrio dalam sebuah penelitian non-manusia. Ia juga mengatakan bahwa pare memiliki kaitan lain dengan kasus - kasus diare, Perdarahan lambung dan maag, detak jantung tidak teratur (fibrilasi atrium), kerusakan ginjal yang parah, ketidaknyamanan perut dan muntah - muntah (Coolick, “The Health Benefits of Bitter Melon”, 2023).


Bagikan catatan ini

Ikuti Studiofru | Green Project melalui media sosial untuk mendapatkan informasi singkat mengenai flora dan fauna

Catatan Terbaru