Beri Dukungan
first published at:
updated at:
    Flora
    Setu Patok

Identitas Penamaan

Mangsian atau mangsi secara ilmiah dalam bahasa Latin dikenal dengan nama Phyllanthus reticulatus. Secara internasional tumbuhan ini dikenal dengan nama black honey shrub.

Di India tumbuhan ini dikenal dengan nama makhi atau panjuli sedangkan di China tumbuhan ini dikenal dengan nama 红鱼眼 atau hong yu yan. Di Afrika tumbuhan ini dikenal dengan nama mwino atau mfuungozi.

Taksonomi

Kingdom

Plantae

Phylum

Tracheophyta

Class

Magnoliopsida

Order

Malpighiales

Family

Phyllanthaceae

Genus

Phyllanthus

Species

Phyllanthus reticulatus

Asal

Tumbuhan ini merupakan tumbuhan asli yang berasal dari wilayah Dunia Lama termasuk Afrika, Asia yang meliputi Indonesia, Malaysia, China dan India serta Australia.

mangsian - phyllanthus reticulatus - 4.jpg

Deskripsi Bentuk dan Pertumbuhan

Mangsian merupakan tumbuhan liar yang dapat ditemukan di pinggir jalan, tanah terlantar, atau lereng bukit. Di Indonesia secara lokal tumbuhan ini dapat dengan mudah ditemukan di pinggir sawah, kebun atau sungai. 

Mangsian adalah semak atau pohon kecil dengan pertumbuhan yang relatif cepat. Dapat tumbuh hingga ketinggian 4 sampai 5 meter dengan batang bercabang yang lebat yang terkulai hingga ke tanah. 

Batangnya memiliki rambut kecil berbulu halus saat masih muda, dan menjadi tidak berbulu saat dewasa. Berwarna cokelat tua dan berkayu ke arah pangkal dan hijau ke arah ujungnya.

Daunnya berwarna hijau tua dengan betul bulat telur dan permukaan atas yang halus serta pelepah yang tampak menonjol. Daunnya tersusun berselang-seling pada batang dengan ukuran panjang sekitar 3 sampai 5 cm dan lebar 2 sampai 3 cm. Mangsian menghasilkan bunga jantan dan betina dengan jumlah bunga jantan yang lebih banyak dibandingkan dengan bunga betina.

Kedua bunga memiliki ukuran yang kecil dengan panjang sekitar 1 sampai 1,5 mm. Bunga jantannya memiliki benang sari, kepala sari, dan filamen sedangkan bunga betinanya memiliki ovarium dan stilus. Mereka diserbuki oleh semut dan serangga kecil.

Setelah penyerbukan, tanaman menghasilkan buah bulat kecil yang awalnya berwarna hijau dan kemudian berubah menjadi ungu tua saat matang. Buah ini mengandung 8 sampai 15 biji kecil berwarna coklat dengan panjang sekitar 1 sampai 2 mm (Green Cover Initiative, 2021).

mangsian - phyllanthus reticulatus - 1.jpg

Manfaat bagi Kesehatan dan Kegunaan Lain dari Mangsian

Dalam pengobatan tradisional sebagaimana tercatat dalam Ayurveda, tumbuhan ini terutama bagian daunnya banyak digunakan untuk pengobatan malaria, diabetes, polio, campak, asma, sakit tenggorokan, gigitan ular, konjungtivitis, anemia, penyakit mata, luka, luka bakar, pendarahan gusi, kejang otot, cacingan, sakit kepala, dan abses. Hal ini dikarenakan daun mangsian mengandung tanin di dalamnya.

Batangnya yang kokoh digunakan untuk membuat gubuk kecil, dan ranting kecilnya digunakan sebagai sikat gigi. Buah matangnya digunakan sebagai makanan di saat kelaparan dan juga dijual di pasar. Kayu tanaman digunakan untuk membuat perkakas dan gagang kayu kecil, dan juga sebagai bahan bakar untuk pembakaran. 

Rebusan batang dan daun digunakan sebagai mordan dan juga untuk mewarnai kapas hitam. Sup yang terbuat dari daunnya, direbus dengan buah lontar untuk diberikan kepada wanita setelah melahirkan (India Biodiversity Portal, “Phyllanthus Reticulatus Poir. | Species”).

Di Malaysia batang dan daunnya dioleskan di dada untuk melawan asma dan rebusan daunnya diminum untuk mengobati sakit tenggorokan, melawan gigitan ular, masalah mental dan diare. Di Filipina daunnya diterapkan secara lokal terhadap cacing kremi. Rebusan akarnya diambil untuk melawan gonore dan penyakit kelamin lainnya dan juga melawan diare yang disertai dengan pendarahan dubur ringan (“Phyllanthus Reticulatus - சிவப்புப்பூலா Civappu-p-pula, காட்டுக்கீழாநெல்லி Kattu-k-kila-nelli, பூலா Pula”).

mangsian - phyllanthus reticulatus - 2.jpg

Buah Mangsi Sebagai Alternatif Pewarna Alami untuk Kain

Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Titik Irawati dan Yushi Mardiana, pencampuran antara ekstrak zat warna yang diperoleh dari 20 gram buah mangsi segar dengan pelarut HCl (1%, 1.5%, 2%) dalam etanol 95% dengan lama maserasi 30 dan 60 menit, memiliki warna cenderung merah keunguan. Warna tersebut menunjukan adanya kandungan senyawa antosianin pada buah mangsi yang berpotensi sebagai pewarna alami. 

Disebutkan pula dalam laporan penelitian bahwa pada durasi lama maserasi selama 60 menit warna kain nampak lebih gelap, karena semakin lama waktu maserasi maka waktu kontak antara pelarut dan buah mangsi juga semakin terikat kuat, sehingga zat warna yang dihasilkan juga semakin tinggi. 


Bagikan catatan ini

Ikuti Studiofru | Green Project melalui media sosial untuk mendapatkan informasi singkat mengenai flora dan fauna

Catatan Terbaru