Beri Dukungan
first published at:
updated at:
    Flora
    Setu Patok
    Jawa Barat

Identitas Penamaan

Chaya secara ilmiah dalam bahasa Latin dinamakan sebagai Cnidoscolus aconitifolius. Tumbuhan ini memiliki beberapa nama populer dalam bahasa Inggris. Diantaranya yaitu cabbage-starMayan tree spinachtread softly dan tree spinach

Nama umum yang paling banyak digunakan untuk spesies ini, Chaya, berasal dari kata Maya untuk “chay”. Nama umum lainnya mengacu pada bulu urtikarianya  seperti ortigapicatread-softly dan spurge nettle (misalnya ortiga, pica, tapak lembut, dan spurge jelatang) (Vélez-Gavilán, 2022).

Taksonomi

Kingdom

Plantae

Phylum

Tracheophyta

Class

Magnoliopsida

Order

Malpighiales

Family

Euphorbiaceae

Genus

Cnidoscolus

Species

Cnidoscolus aconitifolius

Asal 

Chaya merupakan semak atau pohon kecil yang tumbuh alami di Meksiko Selatan dan Amerika Tengah. Tanaman ini diyakini berasal dari Semenanjung Yucatan yang kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia dengan iklim tropis dan hangat sebagai tanaman budidaya. Sejarah pembudidayaannya dapat ditelusuri hingga zaman peradabadan Maya dengan tujuan pembudidayaannya yaitu untuk mendapatkan daunnya yang dapat dimakan (Vélez-Gavilán, 2022). 

Adapun penyebarannya termasuk ke negara - negara di Amerika Selatan, Karibia, Afrika, Asia Tenggara, Oceania dan bagian selatan Amerika Serikat. Walaupun telah banyak didistribusikan ke berbagai negara di dunia, belum ada laporan terkait potensinya sebagai tumbuhan yang invasif.

Sejak diperkenalkan ke Indonesia pada tahun 1998, tanaman chaya mulai menyebar di wilayah Jawa Barat, dan sudah banyak ditemui di wilayah Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Banjar(Advent Simamora et al., 2022). Untuk tulisan ini, penulis juga menemukan tanaman chaya di pinggiran jalan area danau Setu Patok Kabupaten Cirebon. 

chaya - Cnidoscolus aconitifolius - 2.jpg

Deskripsi Bentuk dan Pertumbuhan

Chaya merupakan tumbuhan semak atau pohon kecil yang dapat tumbuh dengan ketinggian yang mencapai hingga 3 sampai 8 meter. Chaya mudah tumbuh dan tidak mudah mengalamai kerusakan dari serangga. Tanaman ini pula diketahui toleran terhadap curah hujan yang tinggi dan dapat toleran terhadap kekeringan. Spesies chaya memiliki 4 varietas yaitu, estrella, picuda, chayamansa dan redonda. 

Varietas estrella dan picuda lebih mirip dengan tipe liar. Varietas estrella memiliki daun dengan lima lobus dentate yang menyebar dan tidak tumpang tindih, hampir tidak memiliki bulu penyengat seperti pada tipe liar. Varietas chayamansa merupakan varietas yang paling banyak dibudidayakan. Varietas ini memiliki daun berbentuk bulat telur dengan lima lobus di mana tiga lobus di tengah biasanya saling tumpang tindih. Daunnya mempunyai bulu-bulu pendek yang menyengat, hanya terdapat di sepanjang tangkai daun dan tepi bawah. Buah-buahan jarang ditemukan pada varietas ini dan tidak pernah menghasilkan benih yang dapat hidup. 

Varietas redonda memiliki daun tiga lobus yang utuh hingga agak bergerigi, tanpa ada bulu yang menyengat. Daunnya yang belum dewasa seringkali utuh. Varietas ini menghasilkan serbuk sari, namun kurang dari 1% yang dapat hidup dan produksi benih sangatlah jarang (Vélez-Gavilán, 2022). Sedangkan di Indonesia hanya terdapat dua varietas lokal yaitu varietas picuda dan redonda dengan varietas picuda yang lebih banyak dibudidayakan oleh masyarakat (Advent Simamora et al., 2022). 

chaya - Cnidoscolus aconitifolius - 3.jpg

Kandungan, Budaya Konsumsi sebagai Makanan dan Manfaat dari Chaya bagi Kesehatan

Daun chaya diketahui memiliki kandungan vitamin, betakaroten dan protein yang tinggi serta kaya akan kalsium, fosfor, zat besi, thiamin, riboflavin dan niasin. Namun daun chaya mentah dapat menjadi racun karena mengandung glukosida yang dapat mengeluarkan racun sianida. Oleh karena itu daun chaya harus dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi untuk menonaktifkan komponen racunnya. 

Nilai gizi yang terkandung pada tanaman chaya sangat dihargai di Yucatan terutama karena kandungan proteinnya hingga terkadang dianggap cocok sebagai bahan makanan pengganti daging. Sebuah laporan yang ditulis oleh Ross-Ibarra & Molina-Cruz (2002) menyatakan bahwa di masa lalu, ketika daging langka atau mahal, chaya jauh lebih populer. Namun seiring dengan turunnya harga daging di zaman modern, popularitas chaya pun menurun. Chaya juga dipandang oleh banyak generasi muda sebagai makanan orang miskin, sebuah stigma yang sama sekali tidak menambah popularitasnya. Penggunaan chaya liar sebagai makanan saat kelaparan dikonfirmasi oleh sebuah teks Maya abad ke-16 dari Chi-lam Balam dari Chumayel dan kronik Spanyol abad ke-16. Di Indonesia, tanaman chaya dikonsumsi daunnya sebagai sayuran seperti halnya daun singkong, bayam dan kangkung. 

Chaya juga dilaporkan mengandung hipoglikemik, antioksidan, efek analgesik dan anti-inflamasi. Sehingga manfaatnya banyak digunakan  untuk mengobati rematik, gangguan pencernaan dan penyakit inflamasi. Tidak hanya sampai di situ tanaman ini juga dilaporkan memiliki kontribusi nutrisi yang penting sebagai pakan unggas, khususnya di Afrika (Verónica Bautista-Robles et al., 2020). 


Bagikan catatan ini

Ikuti Studiofru | Green Project melalui media sosial untuk mendapatkan informasi singkat mengenai flora dan fauna

Catatan Terbaru